Feed & Pet Food Manufacturer

PENTINGNYA BIOREMEDIASI TERHADAP BUDIDAYA UDANG VANAME
shadow effect

29 September 2017

PENTINGNYA BIOREMEDIASI TERHADAP BUDIDAYA UDANG VANAME


Beberapa tahun terakhir ini, budidaya udang vaname di Indonesia menjadi pilihan tepat bisnis, khususnya di dunia perikanan. Udang vaname merupakan komoditas perikanan yang menjadi andalan karena mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi masyarakat perikanan (petambak udang). Tingginya harga udang di pasar, menjadi alasan yang menggairahkan bagi para pelaku budidadaya udang vaname. Keuntungan yang didapat sangat fantastik, hanya dalam kurun waktu yang cukup singkat (3-4 bulan).

Di sisi lain, munculnya penyakit udang vaname baik jenis penyakit lama maupun penyakit baru menjadi perhatian khusus bagi petambak udang. Mulai dari White Spot Syndrome Virus (WSSV), Yellow Head Virus (YHV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV), Early Mortality Syndrome (EMS) dan belakangan ini yang ramai diperbincangkan adalah White Feces Disease (WFD). Timbulnya penyakit udang tidak datang begitu saja pasti ada penyebabnya. Salah satu penyebabnya adalah kerusakan lingkungan (menurunnya daya dukung lingkungan perairan).

Penyebab kerusakan kualitas lingkungan perairan tambak adalah tingginya kandungan bahan nitrogen anorganik, senyawa organik karbon, dan disulfida baik berasal dari sisa pakan, kotoran udang, maupun pemupukan dalam jangka waktu lama. Kandungan itu berdampak langsung terhadap kandungan senyawa amonia, nitrit, H2S dan senyawa karbon yang bersifat toksik pada sistem tambak udang vaname.

Berbagai penelitian dalam bidang bioremidiasi telah dilakukandan telah berhasil mengembangkan suatu konsorsia mikroorganisme yang mampu menghilangkan zat pencemar secara efisien. Dalam penerapan bioremidiasi pada aquaculture harus diperhatikan kondisi lingkungan yang harus dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Proses bioremidiasi oleh mikroorganisme ini merupakan suatu proses degradasi zat oleh enzim ekstraselular yang dihasilkan oleh mikroorganisme tersebut. Tingginya kadar nitrogen dalam pakan dan feses akan menyebabkan menurunnya nilai C/N ratio tanah. Maka diperlukan suatu mikroorganisme yang membawa pada laju peningkatan respirasi.

Bioremediasi didefinisikan sebagai proses penguraian limbah organik/ anorganik polutan secara biologi dalam kondisi terkendali. Penguraian senyawa kontaminan ini umumnya melibatkan mikroorganisme (khamir, fungi, dan bakteri). Pendekatan umum yang dilakukan untuk meningkatkan biodegradasi adalah dengan cara: (i) menggunakan mikroba indigenous (bioremediasi instrinsik), (ii) memodifikasi lingkungan dengan penambahan nutrisi dan aerasi (biostimulasi), (iii) penambahan mikroorganisme (bioaugmentasi).

Bioremidiasi adalah pemanfaatan organisme untuk membersihkan senyawa pencemar dari lingkungan. Pada proses ini terjadi biotransformasi atau biodetoksifikasi senyawa toksik menjadi senyawa yang kurang toksik atau tidak toksik. Proses utama pada bioremidiasi adalah biodegradasi, biotransformasi dan biokatalis. Didefinisikan sebagai proses penggunaan organisme hidup, terutama mikroornagisme, untuk mendegradasi bahan pencemar (toksikan) lingkungan yang merugikan ke tingkat atau bentuk yang lebih aman dalam hal memperbaiki/ mengembalikan kondisi suatu lingkungan yang telah mengalami penurunan kualitas menjadi seperti semula sesuai ndengan fungsinya masing-masing. Bioremediasi dapat memanfaatkan aktivitas metabolisme konsorsium bakteri agen bioremediasi yang terdiri dari bakteri nitrifikasi, denitrifikasi dan fotosintetik anoksigen.

Pada teknologi bioremediasi ini bakteri nitrifikasi akan mendegradasi amonia menjadi nitrit dan nitrat, bakteri denitrifikasi akan mendegradasi nitrat atau nitrit menjadi gas nitrogen, sedangkan bakteri fotosintetik anoksigenik akan mendegradasi senyawa hidrogen sulfida menjadi unsur sulfur.

Bioremediasi bertujuan untuk merombak bahan pencemar (senyawa toksik) menjadi senyawa tidak toksik dengan memanfaatkan mikroorganisme tertentu. Beberapa jenis atau kelompok bakteri telah dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai bakteri bioremediasi adalah bakteri nitrifikasi dan bakteri denitrifikasi, konsorsium bakteri Bacillus sp. dan Pseudomonas sp., campuran Bacillus sp. dan jamur Saccharomyces sp., serta konsorsium Bacillus sp., Nitrosomonas sp. dan Nitrosobacter sp. yang diintroduksikan ke dalam sistem perairan.

Percobaan menggunakan konsorsium bakteri bioremediasi yang pernah dilakukan oleh Pusat Penelitian Limnologi LIPI tahun 2005-2006 di tambak udang daerah Karawang-Jawa Barat menghasilkan produksi udang 5 ton/Ha dengan tingkat kelangsungan hidup 70 persen sedangkan pada tambak pembanding (bakteri bioremediasi komersial) produksi mencapai 4 ton/Ha dengan tingkat kelangsungan hidup 50 persen, dan tambak kontrol (tanpa bioremediasi) udang mati pada umur 40 hari karena kualitas air tambak yang buruk.

Bioremediasi

Proses Bioremediasi oleh Mikroorganisme (Manan, 2015)

Melalui penerapan bioremediasi ini, mari kita pulih dan sehatkan kembali daya dukung lingkungan perairan kita, khususnya tambak udang, sehingga produksi udang vaname di Indonesia terus meningkat dan berkelanjutan. Jayalah per(udang)an Indonesia.

Tags : udang, budidaya

PT. MATAHARI SAKTI

Margomulyo Industri I Blok A9-13
Surabaya, 60183 East Java - Indonesia
Phone : +62 31 749 1199 (Hunting)
Fax : +62 31 749 0545

Certificate Logo

PT. MATAHARI SAKTI © 2015 - All Rights Reserved. Website by Creazi